Terlahir dari ayah ibu yang akrab dengan kegiatan luar ruangan terutama di bidang fotografi, mungkin aja darah bertualangnya mengalir sedikit di tubuh gue. Rasa ga pernah puas dan penasaran, menyebabkan gue udah mulai gabung di beberapa komunitas sejak SD. Seneng aja ketemu orang lain yang jauh lebih senior dan denger cerita mereka di bidang keahlian mereka masing-masing. Dari yang junior perlahan menjadi senior. Dari yang dilatih, lambat laun menjadi pelatih. Namun tetap belajar. Karena belajar bisa dari siapapun dan kapanpun. Gue selalu camkan itu di benak. Yang sudah senior tentunya diharapkan menyalurkan ilmu ke adik-adiknya. Degradasi, tentu sulit dihindari. Namun, ada satu kalimat yang belakangan ini terus mengusik pikiran gue: “Udah bukan jamannya gue, Drey ngurus ginian.”
Begitu.
Adakah batasan waktu dalam pengabdian?
Gue belum paham ada alasan apa di balik kalimat itu yang anehnya ga muncul dari satu mulut aja. Beberapa.
Jadi siapa yang ngurus?
Gue?
Yang baru punya pengalaman satu setengah tahun ini?
Kalian mau mempercayakan hal ini ke orang yang baru punya pengalaman seumur bawang?
Hmm, tercium aroma degradasi di sini.
Jelas sudah apa penyebab degradasi itu. Ilmu yang menurun di tiap tahunnya, pengabdian setengah-setengah, mengajarkan dengan memberi teori namun sembunyi tangan saat prakteknya.
Kami yang hanya anak ingusan ini, tak ada cara lain, harus merangkak, merayap dan menggapai-gapai demi tercapainya tujuan.
Kontras, di gedung sebelah, ilmu turun setiap harinya, di sela-sela perbincangan hangat ditemani kopi.
Ada batasan antar senior-junior, namun yang senior tak meninggi di awang-awang, dan para junior tidak merasa tertekan dengan statusnya.
Yang mungkin tak mereka sadari, senior sedang mentransfer ilmunya.
Hei kalian, ya kaliannn, aku iri tau!
Karena sesungguhnya, pembentukan mental bukan hanya selama di medan latihan, tapi dalam proses keseharian.
Palmerah Utara
7 Juli 2017
13.50
Diketik sambil nyetrika.