Cibodas: Tidak Selalu Nanjak Gede Pangrango

Lalu lintas Slipi lagi sepi-sepinya Sabtu pagi itu. Nampaknya Jakarta ga butuh gubernur yang cemerlang memecahkan masalah kemacetan, karena masalah itu bisa diatasi dengan adanya libur. Siapa yang setuju libur? Saya!! Hore ayo kita libur 🙂

“Kita naik Marita ya geng, bis yg rada kecil itu. Tapi belom ada, jadi tunggu aja dulu.”

Jalan maju lagi dan ada bis yang lebih besar jurusan Cianjur. Daripada kelamaan nunggu Marita lewat, yaudah naik ini aja. Eh tapi..ternyata bis yang kita cari ada di beberapa meter depan bis kami ini. Diam- diam kami pun ganti haluan yang diiringi teriakan kondektur bis di belakang. Uppss maaf pak.

Kalau gue pribadi, ke Cibodas biasanya naik APTB dari Slipi yg menuju Ciawi. Lanjut naik Marita. Naik APTB jauh lebih cepat dan nyaman daripada ke Kampung Rambutan dulu.

Bertiga bareng Bena sama Alam, kita langsung nyerbu Warung Ibu buat sarapan. Terakhir kunjungan kesana bulan pas tektok Gede bulan Februari, sekarang lantai 2 Warung Bu Ambi udah jadi. Alhamdulillah, mereka menikmati hasil dari kemajuan pariwisata TNGP dan area sekitaran Cibodas.

Persis di seberang Warung Ibu, berdiri tegak Gunung Gegerbentang, penuh kenangan yang manis untuk dikenang tapi pahit saat dijalani. Cia cia ciaaa..

Tujuan One Day Trip kali ini ke Canopy Trail yang terkenal seantero anak-anak travelling dan Kebun Raya Cibodas sebagai bonusnya. Gue singkat KRC aja ya,  biar ringkes. Nah di KRC ini ada banyak spot keren; Penangkaran Bunga Bangkai, Air Terjun Ciwalen, Taman Sakura (ini tujuan utamanya!), Taman Paku-Pakuan, Taman Lumut dan masih banyak lagii.

Di KRC ini ada bis keliling loh, lumayanlah buat hemat tenaga.

Tak dinyana, ternyata bunga sakura yang ada di KRC ini cuma bermekaran di kurun waktu Januari- Februari dan Juli- Agustus, itupun hanya mekar selama 4 hari. Kecewa hati ini terlukaaaa.

Terus menyusuri ke arah Selatan, sampailah di area padang rumput yang luas banget. Sejauh mata memandang, rumput semua!! Asik abis.

Fotografer kami: Sabrina Mustafa a.k.a Bena dengan setelan monokromnya (as always) dan dilengkapi dengan sandal jepit andalan.

Nanjak dikit lagi ke arah Selatan, ada semacam villa yang kosong. 2 villa itu posisinya di atas bukit jadi bisa ngeliat pemandangan sebagian KRC. 

Di sebelahnya lah ada Taman Lumut sama Penangkaran Bunga Bangkai. Tapi lagi ga mekar. Ga mekar aja tinggi banget. FYI, KRC ini setiap sudutnya photoable banget. Apalagi bareng Bena kan, jadilah gue model dan dia fotografernya, Alam jadi tim support.
Puas foto-foto di KRC, berat sih ninggalinnya, tapi udah siang dan kita harus beralih ke Canopy Trail.

Apa yang diceritain temen-temen ternyata memang benar. Harga tiket masuk ke Canopy Trail agak-agak menyayat hati. Untuk perorangan, dikenakan 40ribu dan harus pakai jasa guide yaitu 50ribu per kelompok. Total 170rb untuk bertiga tapi ada diskon jadi 150rb. Gue ga masalah dengan tarif segitu, hanya yang disayangkan, gue cuma menerima kwitansi dan tiket Canopy Walk seharga 37.500/orang. Diminta tiketnya, ada aja alasannya. Huft, pariwisata di Indonesia selalu diakal-akalin gini, gimana bisa bersaing dengan pariwisata di luar sana?

Menuju Canopy Trail ini teramat dekat. Sekali roll depan menyusuri jalan setapak juga udah nyampe. Sepanjang jalan setapak ada beberapa papan informasi mengenai hewan endemik TNGP dan juga kebiasaan hidup mereka. Jalur setapaknya rapi, bersih dan hanya ada rombongan kami. Serasa private trip. Hihi..

Pada awalnya, pihak TNGP mengangkat Air Terjun Ciwalen sebagai objek utama baru di area Cibodas ini, difasilitasi Canopy Trail sebagai akses menuju kesana. Dibangun tahun 2010, masih seumur jagung. Namun, seiring waktu yang lebih terkenal malah Canopy Trail dibanding Air Terjun Ciwalen. Walah..tapi memang ciamik sih.

Model kerudung HijUp dan gue sebagai MUA yang udah buluk dan lepek karena keujanan. Yang belakang tuh lagi nyari spot bagus buat foto.

Ini guide kami. Mana guidemu?😉

Acap kali ke TNGP sisi Cibodas, wajib hukumnya foto di dinding ini. Salah satu bapak bersedia fotoin kami. 1 sampai 2 foto masih normal-normal aja, hingga di take ketigalah, muncul keanehan dari bapak ini. Beliau tetiba ngemiringin hape 45° dan..ehhhh..ehhh..cekrek!

Voila! Jadilah foto ini, foto alay ala-ala anak SMP tp tak apeu..lutju juga 😊

Menikmati sisi lain dari Cibodas, karna ke TNGP tak melulu nanjak ke Gede ataupun Pangrango 😉

2 responses to “Cibodas: Tidak Selalu Nanjak Gede Pangrango”

  1. ku baru tau kebun raya cibodas berumput dan berbukit begitu, sekilas karena di bukit2 kecilnya ada pohon jadi ngingetin sama sabana2 di gunung. aaak nice post dreeey (y) (y)

Leave a reply to audreytanzil Cancel reply