Perjalanan ke Sulawesi: Puncak Bulu Rante Mario

-Mei 2015-

Duduk sendiri di deretan bangku bandara Soekarno Hatta, tak membuat saya merasa kesepian melainkan sangat amat semangat dengan perjalanan kali ini. 

Emang mau kemana sih?

*Drumroll*

Yap! Latimojong jadi tujuan perjalanan kali ini. Tana Toraja dan eksplor Kota Makassar sebagai bonusnya.

Ini bukanlah rangkaian perjalanan 7 Summits Indonesia. Saya belum ada niat dan kesempatan untuk itu. Tapi semoga ada kesempatan nantinya. Percayalah, ini hanya berlandaskan keisengan belaka.

Namun, berawal dari keisengan tersebut, pelan-pelan diketemukanlah dengan para personil lainnya, lemme introduce you to them:

Full team

Kiri-Kanan:

Arfah, Dendry, Rifki, Hudin, Asep, Bang Ales, Aziz dan Bang Yus

Karena saya tiba lebih cepat 1 hari di Makassar, jadilah saya tim advance untuk trip kali ini. Sebagai tim advance ada hikmahnya juga, keliling kota Makassar, menikmati sunset di Pantai Losari sambil ngemil-ngemil Pisang Epe, mencicipi Coto Makassar di 999, blusukan di kampung-kampung. Ditemani oleh Linda, teman asli Makassar yang ajak saya keliling-keliling kota naik motor yang sekaligus bersedia kosannya ditumpangi sama anak Jakarta nekat ini. Di beberapa gang kecil, rumah-rumah penduduk sekitar dihiasi dengan bentuk Tongkonan (rumah adat Suku Toraja) dan hiasan khas Suku Toraja lainnya. 

Keesokan harinya baru deh saya dijemput dengan anggota tim yang lain, mereka sudah sewa mobil yang akan mengantar kami ke Kel. Baraka.

8 jam perjalanan darat dengan mobil sewaan menuju Kel. Baraka dari Makassar sebenarnya bisa ditempuh dengan bis antar kota yang melewati Jln. Sultan Alauddin, membawa penumpang menuju perbatasan antara Kota Makassar dengan Kabupaten Gowa. Memasuki Kabupaten Gowa, pemandangan mulai berubah dari perkotaan menjadi perbukitan di sisi Timur dan tepi laut di sisi Barat. Tiada hujan sama sekali selama perjalanan itu, laut dan langit berlomba-lomba menampilkan siapa yang paling biru. Say goodbye sama kota daeng! Say hello to perbukitan dan tebing-tebing yang ciamik!

20150514_142147
Tebing-tebing selama perjalanan menuju Desa Baraka

Untuk teman-teman yang mau mendaki ke Gunung Latimojong, bisa stay dan nanya-nanya informasi sama Pak Dadang atau kawannya yang lain di KPA Lembayung, Kel. Baraka, Kab. Enrekang. Beliau masuk ke program transmigrasi dari Jawa Barat, that’s why namanya Sunda pisan. Jadi jangan heran ya.

20150514_144800
Papan batas daerah di Kel. Baraka

Belanja logistik paling tepat adalah saat masih di perjalanan dari Kota Makassar ke Gowa. Karena setelah masuk Gowa sangat sulit menemukan minimarket.

Di malam itu, kami langsung persiapan berangkat ke desa terakhir sebelum batas vegetasi Pegunungan Latimojong, yaitu Desa Karangan. Untuk sampai ke Desa Karangan ini, sudah tidak bisa diakses dengan mobil biasa, kudu wajib naik Monster, sebutan orang lokal untuk jeep terbuka tanpa roof yang saking kebukanya sampai pintu depan untuk penumpang dan supir pun sudah tidak ada. Saya dan Arfah yang kecil-kecil nyempil duduk di depan pun sepanjang jalan berpegangan erat sambil berdoa tidak terlempar keluar dari Monster selama perjalanan memicu adrenalin itu.

Sayangnya, tidak ada dokumentasi selama perjalanan dengan Sang Monster ini. 3 jam di keheningan malam, dengan jalur yang tidak bisa ditebak karena pepohonan kadang terbuka kadang tertutup, melintas sungai, membelah perkebunan kopi, kelokan-kelokan ekstrim yang hanya supir inilah paham seluk-beluknya. Belum kalau kadang-kadang papasan dengan mobil lain. Beberapa kali juga kami harus turun karena jalur batu dan tanah berlumpur karena semalam sebelumnya habis turun hujan, Sang Monster harus didorong sambil terus digas sampai meraung-raung. Aduh, udah tuwir. Tapi semuanya seru apalagi karena terbayar oleh keindahan langit malam yang bintangnya banyakkk sekali. Bener deh, sebagai orang Jakarta yang jarang bisa lihat banyak bintang, I’m so amazed with this scenery. 

Basecamp Karangan masih belum resmi saat itu, tidak ada pos registrasi dan kami bingung harus melapor ke siapa. Setelah melapor ke Pak RT, kami pun minta ditemani salah satu guide karena dari kami belum ada yang pernah mendaki Gunung Latimojong. Sempat gamau lanjut perjalanan karena flu hebat dan cuaca malam yang cukup dingin. But, the show must goes on 🙂

Basecamp Karangan dihiasi dengan rumah-rumah panggung dari kayu yang khas dan untuk mulai tracking kami harus mendaki melewati barisan rumah itu dan sampai di batas vegetasi tempat pendakian dimulai. Namun karena sudah malam, pemandangan pun jadi terbatas.

Perjalanan Basecamp ke Pos 1 (Buntu Kaciling) masih santai, jalur makadam memutar dan naik turun lereng, mengitari Salu Karangan (Salu= Sungai), menembus perkebunan warga hanya memakan waktu sejam. Dari Pos 1 yang terletak sekitar 1.800 mdpl ini keliatan jelas Pegununugan Latimojong dan sekitarnya dengan bintang bertebaran. Indah sekali!

Pos 1 ke Pos 2 (Gua Sarung Pakpak) lah Latimojong mulai memperkenalkan karakteristiknya yang sebenarnya. Jalur naik turun, melipir lereng tertutup dan lembab menjadikan ciri khas gunung ini. Sampai di satu spot dimana setelah nanjak dan terus menanjak, tiba-tiba ada turunan curam ke arah kiri yang harus ekstra hati-hati. Terusssss turun dan ternyata tibalah di aliran air sungai. Tidak terlalu lebar namun debit airnya cukup deras. Tepat pukul 2 pagi, melawan dinginnya malam, kami menyeberangi aliran sungai tersebut dan tiba di Pos 2. Batu besar dan cerukan gua di samping sungai yang memutari poslah yang jadi pertanda bahwa kita sudah sampai di Pos 2. Belakangan, di pertengahan tahun 2016, dibangunlah jembatan kayu untuk menyeberangi aliran sungai ini.

There was no more space for our tent, so kita pun nyempil-nyempil di bawah batu dan pasang flysheet di atasnya. Sedangkan saya dan Arfa bergabung dengan kelompok lain, tidur di cerukan gua. Pelataran seukuran 4x 5 meter yang terlihat datar tapi saat kami berbaring, lama-lama kaki merosot, yang di bawahnya sudah langsung aliran deras sungai. Sempat dag-dig-dug serr juga, alhasil tidur siaga sepanjang malam dan kaki menahan tubuh agar tidak merosot.

Sleeping by the river

Keesokan paginya barulah nampak pemandangan sekitar Pos 2 dan ternyata memang sangat sempit areanya, terbatas kurang dari 5 tenda saja.

Camp kami di Pos 2
Aliran sungai di Pos 2

Meninggalkan Pos 2, jalur langsung menanjak 60° dan sempit sehingga kita harus berpegangan pada pohon kanan kiri untuk merangkak naik. Menuju Pos 3 (Lantang Nase) jauh lebih menantang karena medan yang menanjak terus, didominasi oleh beberapa pohon tumbang yang mengharuskan pendaki jongkok dan merayap untuk melaluinya. Dengan pemandangan beraneka ragam jenis lumut di sebelah kanan kirinya, menjadikan hiburan sendiri dan perjalanan pun menjadi semakin seru.

Alice in Wonderland, huh?

Menuju Pos 4 (Buntu Lebu, 2.140 mdpl) medan tidak seganas Pos 3 tapi tetap harus hati-hati ya. Kalau mau santai, bisa ngecamp lagi di Pos 5, yaitu Soloh Tama. Dengan kapasitas kira-kira 10 tenda, pos yang berada di ketinggian 2.400an mdpl ini tidak terlalu tertutup, tapi masih belum terlihat pemandangan.

Barulah di Pos 6 dengan ketinggian 2.690 mdpl, pemandangan Pegunungan Latimojong mulai terlihat. Berburu sunset di Pos 6 itu ciamik banget loh! Karena dapat lautan awan juga dan warna langitnya ungu tua. Cantik!

Sunset di Pos 6

Di penghujung Pos 6, areanya sudah mulai terbuka. Untuk bermalam di sana, harus pintar-pintar cari tempat yang lumayan tertutup karena area ini sudah sangat terbuka sehingga anginnya kencangg sekali. Beruntungnya kami menemukan satu area yang pas untuk tenda-tenda kami.

Keesokan paginya, kami meninggalkan tenda kami di Pos 6 dan melanjutkan perjalanan ke Puncak Rantemario. Walaupun antara Pos 6 dan Pos 7, areanya sudah sangat tinggi dan sudah terlihat pemandangan Pegunungan Latimojong, namun untuk meraih Puncak Rante Mario masih harus melewati Pos 7. Perjalanan dari Pos 6 ke Pos 7 melewati padang terbuka yang luas sekali, naik turun berbatu. Di beberapa tempat sampai harus merangkak naik. Wow, amazing sekali ya guys yaaa jalurnya.

Perjalanan dari Pos 7 ke Puncak

Dan setelah 1,5 jam perjalanan, voila! Sampai juga di Puncak Bulu Rante Mario, puncak tertinggi di antara 8 puncak lainnya dari Pegunungan Latimojong sekaligus puncak tertinggi Sulawesi! My first time touch Celebes and straight to its highest peak.

Monumen di Puncak Rante Mario
We made it! Yuhuuu

Setiba lagi kami di basecamp, kami mulai merencanakan perjalanan ke Tana Toraja. Trip Latimojong-Tana Toraja memang umum dan seringkali jadi sepaket. Untuk perjalanan ke Tana Toraja dilanjut di next post yaa. Menurutku, gunung-gunung di luar Pulau Jawa memberikan tantangan tersendiri, mulai dari jalur pendakian, akses menuju gunungnya, dll. Sehingga sejauh ini Gunung Latimojong jadi gunung terlengkap yang pernah kudatangi. Kalau kalian gimana guys, apa gunung tersulit menurut kalian? Komen yaa di bawah ini..

Leave a comment